Golongan ini paling mudah salah dibaca karena orang cenderung mengukur benda dari nilainya. Tafsir tradisional tidak bekerja begitu. Emas tidak otomatis berarti kekayaan, dan sendok tidak otomatis berarti perkara kecil; yang dinilai adalah apa yang dilakukan benda itu, dan apa yang tidak bisa berjalan tanpanya.
Sifat fisiknya sering menjadi kunci. Yang mudah pecah dibaca sebagai hal yang tidak tahan diperlakukan kasar, yang berlubang sebagai hal yang tidak bisa menyimpan, yang tajam sebagai hal yang menyelesaikan sekaligus melukai. Sifat itu melekat pada bendanya dan tidak berubah, sehingga bisa dipakai untuk membaca benda yang belum punya halaman sendiri.
Yang paling menentukan di golongan ini adalah keadaan bendanya — dan inilah yang membedakannya dari golongan lain. Satu benda yang sama dibaca berbeda dalam empat keadaan: utuh, rusak, hilang, atau ditemukan. Utuh berarti peran itu masih berjalan; rusak berarti masih ada tetapi tidak lagi bisa diandalkan; hilang berarti aksesnya putus; ditemukan berarti datang tanpa diusahakan. Perhatikan keadaannya lebih dulu sebelum mencari makna bendanya.
Kepemilikan menambah lapisan kelima. Benda milik sendiri dibaca sebagai bekal pemimpi, benda pinjaman sebagai kemampuan yang bergantung pada orang lain, dan benda milik orang lain sebagai sesuatu yang dipakai tanpa hak. Banyak versi menekankan bahwa yang dipinjam selalu menuntut dikembalikan, dan tafsirnya ikut membawa beban itu.
Banyak benda juga dibaca berlapis karena bahasa Indonesia sudah lebih dulu memakainya sebagai kiasan. Kursi berarti kedudukan, celana berarti kehormatan, dan lampu berarti kejelasan — semuanya sudah hidup di percakapan sehari-hari sebelum masuk ke buku mimpi. Kalau sebuah benda punya peribahasa yang melekat padanya, hampir pasti peribahasa itu ikut menjadi tafsirnya.