Ini golongan yang paling sering ditanyakan dengan cemas, terutama ketika yang muncul adalah orang yang dikenal. Tradisi tafsir Indonesia umumnya menjawabnya dengan hati-hati, dan jawabannya perlu disebut lebih dulu sebelum apa pun: mimpi bukan keterangan tentang perbuatan orang lain. Sosok yang dikenal hampir selalu dibaca sebagai perasaan pemimpi terhadap orang itu, bukan sebagai kabar tentang dirinya.
Aturan itu penting karena golongan ini menyimpan mimpi-mimpi yang paling mudah merusak hubungan kalau salah dibaca — pasangan yang berpaling, keluarga yang bertengkar, orang dekat yang mencelakai. Semuanya dibaca sebagai kekhawatiran pemimpi, dan tradisi tafsir hampir selalu menutupnya dengan anjuran membicarakan, bukan mengawasi.
Sosok yang tidak dikenal dibaca berbeda dan sering lebih terbuka. Ia biasanya mewakili peran, bukan pribadi — penolong, penuntut, pesaing — dan tafsirnya mengarah pada hubungan yang sedang dijalani pemimpi, bukan pada satu orang tertentu. Karena itu wajahnya yang tidak terlihat justru memudahkan pembacaan, bukan menyulitkan.
Orang yang sudah meninggal menempati bagian tersendiri di golongan ini dan hampir tidak pernah dibaca sebagai kunjungan. Yang dibaca adalah hubungan yang belum selesai — terima kasih yang tertunda, maaf yang tidak keburu diucapkan, atau pertanyaan yang tidak pernah sempat dijawab. Tradisi Indonesia umumnya menutup tafsirnya dengan anjuran mendoakan.
Bagian tubuh ikut dalam golongan ini, sebab yang dibaca tetap manusia. Tangan menyangkut kemampuan berbuat, kaki menyangkut jalan yang ditempuh, dan gigi menyangkut hal yang menopang tanpa pernah diperhatikan sampai ia goyah. Peran pemimpi juga menentukan: melakukan sendiri, menyaksikan, atau menjadi pihak yang menanggung dibaca berbeda meski sosoknya sama.