Golongan ini paling banyak berbeda antardaerah, sebab peristiwa selalu punya adat yang menyertainya. Pernikahan, kelahiran, dan kematian dibaca dengan tekanan yang tidak sama di setiap tempat, dan halaman-halaman di sini menyebutkan perbedaan itu bila memang ada. Kalau sebuah tafsir hanya berlaku di satu daerah, itu disebutkan, bukan disamarkan menjadi seolah berlaku umum.
Yang khas dari golongan kejadian, banyak di antaranya justru dibaca lebih ringan daripada dugaan orang. Pertengkaran dibaca sebagai ketegangan yang akhirnya keluar; kematian dibaca sebagai peralihan, bukan ajal. Yang dianggap berat dalam tradisi ini umumnya bukan peristiwanya, melainkan hal yang dipendam dan tidak pernah menjadi peristiwa — diam yang berkepanjangan lebih sering diberi tafsir berat daripada keributan.
Peran pemimpi ikut menentukan, dan ini pembeda terpenting di golongan ini. Melakukan sendiri, menyaksikan, atau mengalami dari pihak yang menanggung — ketiganya dibaca berbeda meski peristiwanya sama. Melakukan menyangkut tanggung jawab atas akibatnya; menyaksikan menyangkut pelajaran yang datang lewat orang lain; menanggung menyangkut akibat dari keputusan yang bukan miliknya.
Dapat tidaknya keadaan dikembalikan adalah sumbu kedua. Peristiwa yang bisa diperbaiki dibaca sebagai peringatan; yang tidak bisa dibaca sebagai penutupan. Karena itu pertanyaan pertama yang berguna sebelum mencari tafsir bukan «apa yang terjadi», melainkan «apakah sesudahnya masih bisa dikembalikan seperti semula».
Perlu diingat bahwa golongan ini memuat mimpi-mimpi yang paling mengguncang saat bangun — kecelakaan, kematian, perselingkuhan, kehilangan. Tradisi tafsir Indonesia hampir tidak pernah membacanya sebagai ramalan atas peristiwa yang akan terjadi. Yang dibaca adalah keadaan batin pemimpi pada saat itu, dan anjurannya hampir selalu berupa hal yang bisa dikerjakan saat terjaga.